Showing posts with label Penyakit Ginjal dan Saluran Kemih. Show all posts
    Showing posts with label Penyakit Ginjal dan Saluran Kemih. Show all posts
  • Trauma Saluran Kemih
    DEFINISI
    Saluran kemih (termasuk ginjal, ureter, kandung kemih dan uretra) dapat mengalami trauma karena luka tembus (tusuk), trauma tumpul, terapi penyinaran maupun pembedahan.

    Gejala yang paling banyak ditemukan adalah terdapatnya darah di urin (hematuria), berkurangnya proses berkemih dan nyeri.
    Beberapa trauma dapat menyebabkan nyeri tumpul, pembengkakan, memar, dan jika cukup berat, dapat menurunkan tekanan darah (syok).

    Limbah metabolik harus disaring dari darah oleh ginjal dan dibuang melalui saluran kemih, karena itu setiap cedera yang mempengaruhi proses tersebut bisa berakibat fatal.
    Mencegah kerusakan menetap pada saluran kemih dan mencegah kematian tergantung kepada diagnosis dan pengobatan yang tepat.


    TRAUMA GINJAL

    Trauma tumpul sering menyebabkan luka pada ginjal, misalnya karena kecelakaan kendaraan bermotor, terjatuh atau trauma pada saat berolah raga.
    Luka tusuk pada ginjal dapat karena tembakan atau tikaman.

    Kerusakan yang terjadi bervariasi.
    Cedera ringan menyebabkan hematuria yang hanya dapat diketahui dengan pemeriksaan mikroskopis, sedangkan cedera berat bisa menyebabkan hematuria yang tampak sebagai air kemih yang berwarna kemerahan.

    Jika ginjal mengalami luka berat, bisa terjadi perdarahan hebat dan air kemih bisa merembes ke jaringan di sekitarnya.
    Jika ginjal sampai terpisah dari tangkainya yang mengandung vena dan arteri, maka bisa terjadi perdarahan hebat, syok dan kematian.

    Trauma yang akibat ESWL (extracorporeal shock wave lithotripsy, suatu prosedur rutin untuk menghancurkan batu ginjal) bisa menyebabkan ditemukannya darah dalam air kemih yang sifatnya sementara, tidak terlalu jelas dan akan membaik dengan sendirinya, tanpa pengobatan khusus.

    Pemeriksaan sinar X untuk ginjal dan saluran kemih, misalnya urografi intravena dan CT scan, dapat secara akurat menentukan lokasi dan luasnya cedera.

    Pengobatan diawali dengan langkah untuk mengendalikan kehilangan darah dan mencegah syok.
    Diberikan cairan intravena untuk menormalkan tekanan darah dan merangsang pembentukan air kemih.
    Untuk cedera ringan (misalnya akibat terapi ESWL), dilakukan pengawasan ketat terhadap asupan cairan dan penderita menjalani tirah baring.
    Cedera berat yang menyebabkan perdarahan hebat atau kebocoran air kemih ke jaringan di sekitarnya seringkali harus diatasi dengan pembedahan.

    Jika aliran darah ke ginjal berkurang, maka jaringan ginjal yang normal bisa mati dan digantikan oleh jaringan parut.
    Hal ini bisa menyebabkan tekanan darah tinggi yang terjadi dalam beberapa minggu atau beberapa bulan setelah terjadinya trauma.

    Biasanya jika terdiagnosis dan diobati secara tepat dan cepat, maka sebagian besar trauma ginjal memiliki prognosis yang baik.


    TRAUMA URETER

    Sebagian besar trauma ureter (saluran dari ginjal yang menuju ke kandung kemih) terjadi selama pembedahan organ panggul atau perut, seperti histerektomi, reseksi kolon atau uteroskopi.
    Seringkali terjadi kebocoran air kemih dari luka yang terbentuk atau berkurangnya produksi air kemih.

    Gejala biasanya tidak spesifik dan bisa timbul demam atau nyeri.

    Penyebab lain trauma ureter adalah luka tembus, biasanya karena luka tembak.
    Jarang terjadi trauma ureter akibat pukulan maupun luka tumpul.

    Pemeriksaan diagnostik yang biasanya dilakukan adalah urografi intravena, CT scan dan urografi retrograd.

    Jika trauma ureter terjadi akibat pembedahan, maka dilakukan pembedahan lainnya untuk memperbaiki ureter.
    Ureter bisa disambungkan kembali ke tempat asalnya atau di bagian kandung kemih yang lainnya.
    Pada trauma yang tidak terlalu berat, dipasang kateter ke dalam ureter dan dibiarkan selama 2-6 minggu sehingga tidak perlu dilakukan pembedahan.
    Pengobatan terbaik untuk trauma ureter akibat luka tembak atau luka tusuk adalah pembedahan.


    TRAUMA KANDUNG KEMIH

    Trauma benturan pada panggul yang menyebabkan patah tulang (fraktur) seringkali terjadi pada kecelakaan sepeda motor dan bisa menyebabkan robekan pada kandung kemih.
    Luka tembus, biasanya akibat tembakan, juga bisa mencederai kandung kemih.

    Gejala utama adalah adanya darah dalam air kemih atau kesulitan untuk berkemih.

    Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan sistografi.

    Robekan kecil (laserasi) bisa diatasi dengan memasukkan kateter ke dalam uretra untuk mengeluarkan air kemih selama 7-10 hari dan kandung kemih akan membaik dengan sendirinya.

    Untuk luka yang lebih berat, biasanya dilakukan pembedahan untuk menentukan luasnya cedera dan untuk memperbaiki setiap robekan. Selanjutnya air kemih dibuang dari kandung kemih dengan menggunakan 2 kateter, 1 terpasang melalui uretra (kateter trans-uretra) dan yang lainnya terpasang langsung ke dalam kandung kemih melalui perut bagian bawah (kateter suprapubik).
    Kateter tersebut dipasang selama 7-10 hari atau diangkat setelah kandung kemih mengalami penyembuhan yang sempurna.


    TRAUMA URETRA

    Penyebab utama dari trauma uretra adalah patah tulang panggul dan karena kedua kaki mengangkang (pada pria).
    Prosedur pembedahan pada uretra atau alat yang dimasukkan ke dalam uretra juga bisa melukai uretra, tetapi lukanya relatif ringan.

    Gejalanya adalah ditemukannya darah di ujung penis, hematuria dan gangguan berkemih.
    Kadang air kemih merembes ke dalam jaringan di dinding perut, kantung zakar atau perineum (daerah antara anus dan vulva atau kantung zakar).

    Penyempitan ureter (striktur) di daerah yang terkena biasanya merupakan komplikasi yang bisa terjadi di kemudian hari.
    Hal ini bisa menyebabkan impotensi akibat kerusakan arteri dan saraf penis.

    Diagnosis ditegakkan berdasarkan uretrogram retrograd.

    Pengobatan untuk memar ringan adalah memasukkan kateter melalui uretra ke dalam kandung kemih selama beberapa hari untuk mengeluarkan air kemih dan uretra akan membaik dengan sendirinya.
    Untuk cedera lainnya, pengeluaran air kemih dari uretra dilakukan dengan cara memasang kateter langsung ke dalam kandung kemih.
    Untuk struktur uretra dilakukan perbaikan melalui pembedahan.
    more
  • Inkontinensia Urine
    DEFINISI
    Inkontinensia Uri adalah ketidakmampuan untuk mengendalikan pengeluaran air kemih.

    Inkontinensia uri bisa terjadi pada usia berapapun dan masing-masing memiliki penyebab yang berbeda.
    Sekitar 1 dari 3 orang usia lanjut memiliki masalah dengan kandung kemihnya dan wanita 2 kali lebih sering terkena.

    Ginjal secara teratur menghasilkan air kemih, yang mengalir melalui dua tabung panjang yang disebut ureter ke kandung kemih (tempat penyimpanan air kemih).
    Bagian terendah dari kandung kemih dilingkari oleh otot (sfingter) yang terus menerus berkontraksi agar saluran pembuangan air kemih (uretra) tetap tertutup, sehingga air kemih tetap berada dalam kandung kemih sampai kandung kemih terisi penuh.

    Jika kandung kemih telah penuh, maka akan disampaikan pesan dari kandung kemih ke medula spinalis, yang diteruskan ke otak sehingga seseorang merasa ingin berkemih.
    Kemudian secara sadar dia akan memutuskan apakah akan segera membuang kemihnya atau menahannya sebentar.

    Jika diputuskan akan berkemih, maka otot sfingter akan mengendur sehingga air kemih mengalir melalui uretra dan otot dinding kandung kemih berkontrakasi untuk mendorong air kemih keluar.
    Dorongan ini bisa ditingkatkan oleh kontraksi dinding perut dan dasar panggul yang akan meningkatkan tekanan pada kandung kemih.

    Keseluruhan proses menahan dan mengeluarkan air kemih ini sangat kompleks dan kemampuan untuk mengendalikan pengeluaran air kemih bisa mengalami gangguan pada setiap tingkatan proses tersebut dan oleh berbagai kelainan.
    Akibat dari gangguan ini adalah hilangnya pengendalian terhadap pengeluaran air kemih.

    PENYEBAB
    Jenis inkontinensia dibedakan berdasarkan awal mula timbulnya inkontinensia, apakah baru terjadi dan secara tiba-tiba atau timbul secara bertahap dan menetap.
    Penyebab yang paling sering ditemukan adalah infeksi kandung kemih (sistitis). Penyebab lainnya adalah:
    - efek samping obat
    - penyakit yang mempengaruhi pergerakan atau menyebabkan linglung
    - asupan minuman yang mengandung kafein atau alkohol berlebihan
    - keadaan yang menyebabkan iritasi kandung kemih atau uretra (misalnya vaginitis atropik atau sembelit yang berat).

    Inkontinensia menahun bisa terjadi akibat:
    - perubahan di dalam otak
    - perubahan di dalam kandung kemih atau uretra
    - kelainan saraf yang menuju atau berasal dari kandung kemih.
    Perubahan-perubahan ini terutama sering ditemui pada usia lanjut dan wanita pasca menopause.

    GEJALA
    Pembagian inkontinensia uri berdasarkan pola gejalanya

    Jenis Definisi Penyebab
    Inkontinensia desakan Ketidakmampuan untuk menunda pengeluaran air kemih lebih dari beberapa menit setelah penderita merasakan kandung kemihnya penuh
  • Infeksi saluran kemih
  • Kandung kemih yg terlalu aktif
  • Penyumbatan aliran kemih
  • Batu & tumor kandung empedu
  • Obat, terutama diuretik
  • Inkontinensia karena stres Kebocoran air kemih, biasanya berupa pancaran kecil, yg disebabkan oleh meningkatnya tekanan di dalam perut, yg terjadi pada saat penderita batuk, tertawa, mengedan, bersin atau mengangkat benda berat
  • Kelemahan pada sfingter (otot yg mengendalikan aliran kemih dari kandung kemih)
  • Pada wanita, berkurangnya tahanan terhadap aliran kemih melalui uretra, biasanya karena kekurangan estrogen
  • Perubahan anatomis yg disebabkan oleh melahirkan banyak anak atau pembedahan panggul
  • Pada pria, pengangkatan prostat atau cedera pada bagian atas uretra atau leher kandung kemih
  • Inkontinensia aliran berlebih Penimbunan air kemih dalam kandung kemih yg terlalu banyak sehingga sfingter tidak mampu menahannya dan terjadi kebocoran yg hilang-timbul, seringkali tanpa sensasi kandung kemih
  • Penyumbatan aliran air kemih, biasanya disebabkan oleh pembesaran atau kanker prostat (pada pria) & karena penyempitan uretra (pada anak-anak)
  • Kelemahan otot kandung kemih
  • Kelainan fungsi saraf
  • Obat-obatan
  • Inkontinensia total Kebocoran berkesinambungan karena sfingter tidak menutup
  • Cacat bawaan
  • Cedera pada leher kandung kemih (misalnya karena pembedahan)
  • Inkontinensia psikogenik Hilangnya pengendalian karena kelainan psikis Gangguan emosional (misalnya depresi)
    Inkontinensia campuran Gabungan dari berbagai keadaan diatas
    Banyak wanita yg mengalami inkontinensia campuran antara stress & desakan
    Gabungan dari berbagai penyebab diatas


    DIAGNOSA
    Beberapa pemeriksaan yang dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis inkontinensia:
    1. Analisa air kemih, untuk menentukan apakah terdapat infeksi atau tidak.
    2. Pengukuran jumlah air kemih yang tersisa di dalam kandung kemih melalui pemeriksaan USG atau kateterisasi. Sisa air kemih yang banyak menunjukkan adanya penyumbatan atau kelainan pada saraf atau otot kandung kemih.
    3. Penilaian urodinamik dilakukan untuk mengukur tekanan kandung kemih pada saat kosong dan pada saat terisi. Pemeriksaan ini terutama efektif dilakukan pada inkontinensia menahun.
    4. Pengukuran laju aliran kemih dilakukan untuk mengetahui adanya penyumbatan aliran kemih dan kekuatan kontraksi otot kandung kemih.

    Pada inkontinensia karena stres dilakukan pemeriksaan vagina dan pemeriksaan panggul (untuk mengetahui apakah lapisan uretra atau vagina mengalami penipisan akibat kekurangan estrogen).

    PENGOBATAN
    Beberapa langkah sederhana bisa dilakukan untuk merubah perilaku penderita:
    1. Teknik perubahan perilaku, misalnya membiasakan diri untuk berkemih setiap 2-3 jam untuk menjaga agar kandung kemih relatif kosong.
    2. Menghindari minuman yang bisa menyebabkan iritasi kandung kemih, misalnya minuman yang mengandung kafein.
    3. Minum sebanyak 6-8 gelas/hari untuk mencegah pemekatan air kemih, karena air kemih yang terlalu pekat bisa mengiritasi kandung kemih.
    4. Menghentikan pemakaian obat-obatan yang bisa menimbulkan efek samping pada kandung kemih.

    Pengobatan untuk inkontinensia desakan.
    1. Membiasakan diri untuk berkemih secara teratur.
    2. Teknik pelatihan kandung kemih yang berupa latihan otot panggul dan biofeedback.
    3. Obat-obatan yang mengendurkan kandung kemih, misalnya propantelin, imipramine, hisiamin, oksibutinin dan disiklomin.

    Pengobatan untuk inkontinensia karena stres.
    1. Pada wanita yang menderita inkontinensia karena stres bisa diberikan tablet estrogen atau krim estrogen yang dioleskan langsung ke vagina.
    2. Obat yang membantu memperkuat sfingter (misalnya fenilpropanolamin atau pseudoefedrin) harus diberikan bersamaan dengan estrogen.
    3. Jika terdapat kelemahan otot panggul, maka dilakukan latihan Kegel dan biofeedback.
    4. Penderita bisa menggunakan pembalut untuk menyerap sejumlah kecil air kemih yang biasanya keluar pada saat mengalami stres.
    5. Pada kasus yang lebih berat, yang tidak memberikan respon terhadap pengobatan diatas, bisa dilakukan pembedahan untuk mengangkat kandung kemih dan memperkuat uretra. Atau bisa diberikan suntikan kolagen di sekeliling uretra.

    Pengobatan untuk inkontinensia aliran berlebih.

    Jika penyebabnya adalah pembesaran prostat atau penyumbatan lainnya, maka dilakukan:
    - pembedahan untuk mengangkat sebagian atau seluruh prostat
    - pemberian obat finasterid seringkali bisa memperkecil ukuran prostat atau menghentikan pertumbuhannya, sehingga tidak perlu dilakukan pembedahan atau pembedahan bisa ditunda
    - pemberian obat untuk mengendurkan sfingter (misalnya terazosin).

    Jika penyebabnya adalah kelemahan kontraksi otot kandung kemih, maka dilakukan:
    - pemberian obat yang meningkatkan kontraksi kandung kemih (misalnya betanekol)
    - menekan perut bagian bawah (tepat diatas kandung kemih) bisa membantu mengosongkan kandung kemih
    - kateterisasi (pemasangan selang kecil melalui uretra) untuk mengosongkan kandung kemih dan mencegah komplikasi (misalnya infeksi berulang dan kerusakan ginjal).

    Inkontinensia total diatasi dengan berbagai prosedur pembedahan.
    Salah satunya adalah mengganti sfingter yang tidak menutup sebagaimana mestinya dengan sfingter buatan.

    Pengobatan untuk inkontinensia psikogenik adalah psikoterapi yang biasanya dilakukan bersamaan dengan perubahan perilaku dan pemakaian alat yang bisa membangunkan anak ketika mulai mengompol atau obat untuk mencegah kontraksi kandung kemih.
    Kepada penderita yang mengalami depresi bisa diberikan obat anti-depresi.

    Jika inkontinensia tidak dapat sepenuhnya dikendalikan oleh berbagai pengobatan spesifik diatas, maka untuk melindungi kulit serta memungkinkan penderita tetap merasa kering, nyaman dan bisa melakukan kegiatan sosial, maka penderita bisa menggunakan pembalut dan pakaian dalam khusus.
    more
  • Kanker Ginjal
    DEFINISI
    Seperti organ tubuh lainnya, ginjal kadang bisa mengalami kanker.
    Pada dewasa, jenis kanker ginjal yang paling sering ditemukan adalah karsinoma sel ginjal (adenokarsinoma renalis, hipernefroma), yang berasal dari sel-sel yang melapisi tubulus renalis.

    Sebagian besar tumor ginjal yang solid (padat) adalah kanker, sedangkan kista (rongga berisi cairan) biasanya jinak.

    PENYEBAB
    Dalam keadaan normal, sel-sel di dalam saluran kemih tumbuh dan membelah secara wajar. Tetapi kadang sel-sel mulai membelah diluar kendali dan menghasilkan sel-sel baru meskipun tubuh tidak memerlukannya.
    Hal ini akan menyebabkan terbentuknya suatu massa yang terdiri jaringan berlebihan, yang dikenal sebagai tumor.

    Tidak semua tumor merupakan kanker (keganasan). Tumor yang ganas disebut tumor maligna. Sel-sel dari tumor ini menyusup dan merusak jaringan di sekitarnya.
    Sel-sel ini juga keluar dari tumor asalnya dan memasuki aliran darah atau sistem getah bening dan akan terbawa ke bagian tubuh lainnya (proses ini dikenal sebagai metastase tumor).

    Penyebab mengganasnya sel-sel ginjal tidak diketahui. Tetapi penelitian telah menemukan faktor-faktor tertentu yang tampaknya meningkatkan resiko terjadinya kanker ginjal.
    Resiko terjadinya karsinoma sel ginjal meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Kanker ini paling sering terjadi pada usia 50-70 tahun. Pria memiliki resiko 2 kali lebih besar dibandingkan wanita.

    Faktor resiko lainnya adalah:
  • Merokok
  • Kegemukan
  • Tekanan darah tinggi (hipertensi)
  • Lingkungan kerja (pekerja perapian arang di pabrik baja memiliki resiko tinggi, juga pekerja yang terpapar oleh asbes)
  • Dialisa (penderita gagal ginjal kronis yang menjalani dialisa menahun memiliki resiko tinggi)
  • Penyinaran
  • Penyakit Von Hippel-Lindau.

  • GEJALA
    Pada stadium dini, kanker ginjal jarang menimbulkan gejala.
    Pada stadium lanjut, gejala yang paling banyak ditemukan adalah hematuria (adanya darah di dalam air kemih). Hematuria bisa diketahui dari air kemih yang tampak kemerahan atau diketahui melalui analisa air kemih.

    Tekanan darah tinggi terjadi akibat tidak adekuatnya aliran darah ke beberapa bagian atau seluruh ginjal, sehingga memicu dilepaskannya zat kimia pembawa pesan untuk meningkatkan tekanan darah.

    Polisitemia sekunder terjadi akibat tingginya kadar hormon eritropoietin, yang merangsang sumsum tulang untuk meningkatkan pembentukan sel darah merah.

    Gejala lainnya yang mungkin terjadi:
    - nyeri pada sisi ginjal yang terkena
    - penurunan berat badan
    - kelelahan
    - demam yang hilang-timbul.

    DIAGNOSA
    Pada pemeriksaan fisik, kadang bisa diraba/dirasakan benjolan di perut.

    Jika dicurigai kanker ginjal, maka dilakukan beberapa pemeriksaan berikut:
  • Urografi intravena
  • USG
  • CT scan
  • MRI bisa memberikan keterangan tambahan mengenai penyebaran tumor.

    Jika tumornya berupa kista, bisa diambil contoh cairan untuk dilakukan analisa.
    Aortografi dan angiografi arteri renalis bisa dilakukan sebagai persiapan pembedahan untuk memberikan keterangan tambahan mengenai tumor dan arteri renalis.

  • PENGOBATAN
    Saat ini pengobatan standar untuk kanker yang masih terbatas di ginjal adalah pembedahan untuk mengangkat seluruh ginjal (nefrektomi simplek atau nefrotomi radikal).
    Pada nefrektomi radikal, dilakukan pengangkatan ginjal dan kelanjar adrenal diatasnya, jaringan di sekitar ginjal serta beberapa kelenjar getah bening.
    Pada nefrektomi simplek, dilakukan pengangkatan ginjal saja.

    Pada prosedur embolisasi arteri, disuntikkan suatu zat khusus ke dalam pembuluh darah yang menuju ke ginjal. Dengan menyumbat pembuluh ini, tumor akan kekurangan oksigen dan zat gizi lainnya.
    Embolisasi arteri bisa digunakan sebelum pembedahan atau untuk mengurangi nyeri dan perdarahan jika pembedahan tidak mungkin dilakukan.
    Embolisasi arteri bisa menyebabkan mual, muntah atau nyeri yang bersifat sementara.

    Terapi penyinaran biasanya digunakan untuk mengurangi nyeri pada kanker yang telah menyebar ke tulang.
    Efek samping dari terapi penyinaran adalah kulit di tempat penyinaran menjadi merah atau gatal, mual dan muntah.

    Imunoterapi menggunakan sistem kekebalan tubuh untuk melawan kanker. Diberikan suatu zat yang dikenal sebagai pengubah respon biologis, misalnya interferon atau interleukin-2.
    Secara normal, zat tersebut dihasilkan oleh tubuh dan juga dibuat di laboratorium untuk membantu mengobati penyakit.
    Efek samping yang timbul berupa menggigil, demam, mual, muntah dan penurunan nafsu makan.


    PROGNOSIS

    Jika kanker belum menyebar, maka pengangkatan ginjal yang terkena dan pengangkatan kelenjar getah bening akan memberikan peluang untuk sembuh.

    Jika tumor telah menyusup ke dalam vena renalis dan bahkan telah mencapai vena kava, tetapi belum menyebar sisi tubuh yang jauh, maka pembedahan masih bisa memberikan harapan kesembuhan. Tetapi kanker ginjal cenderung menyebar dengan cepat, terutama ke paru-paru.

    Jika kanker telah menyebar ke tempat yang jauh, maka prognosisnya jelek karena tidak dapat diobati dengan penyinaran, kemoterapi maupun hormon.
    more
  • Dialisa
    DEFINISI
    Dialisa adalah proses pembuangan limbah metabolik dan kelebihan cairan dari tubuh.

    Ada 2 metode dialisa, yaitu hemodialisa dan dialisa peritoneal.
    Pada hemodialisa, darah dikeluarkan dari tubuh penderita dan dipompa ke dalam mesin yang akan menyaring zat-zat racun keluar dari darah dan kemudian darah yang sudah bersih dikembalikan lagi ke dalam tubuh penderita. Jumlah total cairan yang dikembalikan dapat disesuaikan.
    Pada dialisa peritoneal, cairan yang mengandung campuran gula dan garam khusus dimasukkan ke dalam rongga perut dan akan menyerap zat-zat racun dari jaringan. Cairan tersebut kemudian dikeluarkan lagi dan dibuang.


    ALASAN DILAKUKANNYA DIALISA

    Dialisa dilakukan jika gagal ginjal menyebabkan:
    - Kelainan fungsi otak (ensefalopati uremik)
    - Perikarditis (peradangan kantong jantung)
    - Asidosis (peningkatan keasaman darah) yang tidak memberikan respon terhadap pengobatan lainnya
    - Gagal jantung
    - Hiperkalemia (kadar kalium yang sangat tinggi dalam darah).

    Dialisa banyak digunakan sebagai pencegahan pada gagal ginjal akut yang pembentukan kemihnya sangat sedikit dan dilanjutkan sampai pemeriksaan darah menunjukkan bahwa fungsi ginjal telah kembali.
    Pada gagal ginjal kronis, dialisa dilakukan jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ginjal tidak mampu membuang limbah metabolik atau jika penderita tidak dapat lagi melakukan kegiatannya sehari-hari.

    Frekuensi dialisa bervariasi, tergantung kepada banyaknya fungsi ginjal yang tersisa, tetapi sebagian besar penderita menjalani dialisa sebanyak 3 kali/minggu.
    Program dialisa dikatakan berhasil jika:
    - penderita kembali menjalani hidup normal
    - penderita kembali menjalani diet yang normal
    - jumlah sel darah merah dapat ditoleransi
    - tekanan darah normal
    - tidak terdapat kerusakan saraf yang progresif.

    Dialisa bisa digunakan sebagai pengobatan jangka panjang untuk gagal ginjal kronis atau sebagai pengobatan sementara sebelum penderita menjalani pencangkokan ginjal.
    Pada gagal ginjal akut, dialisa dilakukan hanya selama beberapa hari atau beberapa minggu, sampai fungsi ginjal kembali normal.

    Dialisa juga bisa digunakan untuk membuang obat tertentu atau racun dari tubuh.


    PERMASALAHAN

    Penderita yang menjalani dialisa memerlukan makanan dan obat khusus.
    Nafsu makan penderita menurun dan terjadi kehilangan protein selama dialisa peritoneal, karena itu penderita biasanya memerlukan diet tinggi protein (secara kasar sebanyak 1 gram/kg BB).

    Asupan natrium dan kalium harus dibatasi sampai 2 gram/hari. Asupan makanan kaya fosfat juga harus dibatasi.
    Asupan cairan pada penderta yang memiliki kadar natrium rendah harus dibatasi.

    Sangat penting untuk melakukan penimbangan berat badan setiap hari.
    Penambahan berat badan yang berlebihan menunjukkan terlalu banyaknya asupan cairan.

    Multivitamin dan tambahan zat besi perlu diberikan untuk menggantikan zat gizi yang hilang pada proses dialisa.
    Penderita yang menjalani dialisa dan menerima banyak transfusi darah seringkali mendapatkan terlalu banyak zat besi karena darah mengandung sejumlah besar zat besi. Karena itu penderita tidak mendapatkan tambahan zat besi.
    Untuk merangsang pembentukan se darah merah bisa diberikan hormon (testosteron atau eritropoietin).
    Pengikat fosfat (misalnya kalsium karbonat atau kalsium asetat) diberikan untuk membuang kelebihan fosfat.

    Kadar kalsium darah yang rendah atau penyakit tulang hiperparatiroid yang berat diobati dengan kalsitriol (salah satu bentuk vitamin D) dan tambahan kalsium.

    Pada penderita gagal ginjal sering dijumpai tekanan darah tinggi. Pada 50% penderita, hal ini bisa diatasi secara sederhana dengan membuang sejumlah cairan selama dialisa. Sedangkan pada penderita lainnya perlu diberikan obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah.


    HEMODIALISA

    Hemodialisa adalah suatu prosedur dimana darah dikeluarkan dari tubuh penderita dan beredar dalam sebuah mesin diluar tubuh yang disebut dialyzer.
    Prosedur ini memerlukan jalan masuk ke aliran darah. Untuk memenuhi kebutuhan ini, maka dibuat suatu hubungan buatan diantara arteri dan vena (fistula arteriovenosa) melalui pembedahan.

    Pada hemodialisa, darah penderita mengalir melalui suatu selang yang dihubungkan ke fistula arteriovenosa dan dipompa ke dalam dialyzer.
    Untuk mencegah pembekuan darah selama berada dalam dialyzer maka diberikan heparin.

    Di dalam dialyzer, suatu selaput buatan yang memiliki pori-pori memisahkan darah dari suatu cairan (dialisat) yang memiliki komposisi kimia yang menyerupai cairan tubuh normal.
    Tekanan di dalam ruang dialisat lebih rendah dibandingkan dengan tekanan di dalam darah, sehingga cairan, limbah metabolik dan zat-zat racun di dalam darah disaring melalui selaput dan masuk ke dalam dialisat. Tetapi sel darah dan protein yang besar tidak dapat menembus pori-pori selaput buatan ini.
    Darah yang telah dicuci lalu dikembalikan ke dalam tubuh penderita.

    Dialyzer memiliki ukuran dan tingkat efisiensi yang berbeda-beda.
    Mesin yang lebih baru sangat efisien, darah mengalir lebih cepat dan masa dialisa lebih pendek (2-3 jam, sedangkan mesin yang lama memerlukan waktu 3-5 jam).
    Sebagian besar penderita gagal ginjal kronis perlu menjalani dialisa sebanyak 3 kali/minggu.

    Hemodialisa

    Komplikasi Hemodialisa

    Komplikasi Penyebab
    Demam
  • Bakteri atau zat penyebab demam (pirogen) di dalam darah
  • Dialisat terlalu panas
  • Reaksi anafilaksis yg berakibat fatal
    (anafilaksis)
  • Alergi terhadap zat di dalam mesin
  • Tekanan darah rendah
  • Tekanan darah rendah Terlalu banyak cairan yg dibuang
    Gangguan irama jantung Kadar kalium & zat lainnya yg abnormal dalam darah
    Emboli udara Udara memasuki darah di dalam mesin
    Perdarahan usus, otak, mata atau perut Penggunaan heparin di dalam mesin untuk mencegah pembekuan



    DIALISA PERITONEAL

    Pada peritoneal dialisa, yang bertindak sebagai penyaring adalah peritoneum (selaput yang melapisi perut dan membungkus organ perut).
    Selaput ini memiliki area permukaan yang luas dan kaya akan pembuluh darah. Zat-zat dari darah dapat dengan mudah tersaring melalui peritoneum ke dalam rongga perut.

    Cairan dimasukkan melalui sebuah selang kecil yang menembus dinding perut ke dalam rongga perut.
    Cairan harus dibiarkan selama waktu tertentu sehingga limbah metabolik dari aliran darah secara perlahan masuk ke dalam cairan tersebut.
    Kemudian cairan dikeluarkan, dibuang dan diganti dengan cairan yang baru.

    Biasanya digunakan selang karet silikon yang lembut atau selang poliuretan yang berpori-pori, sehingga cairan mengalir secara perlahan dan tidak terjadi kerusakan.

    Dialisa peritoneal tidak boleh dilakukan pada penderita yang:
    - menderita infeksi dinding perut
    - memiliki hubungan abnormal antara dada dan perut
    - baru saja menjalani pencangkokkan pembuluh darah buatan di dalam perut
    - memiliki luka baru di perut.

    Ada beberapa teknik yang digunakan dalam dialisa peritoneal:
    1. Dialisa peritoneal intermiten manual.
      Merupakan teknik yang paling sederhana.
      Sebuah kantong berisi cairan dipanaskan sesuai suhu tubuh, lalu cairan dimasukkan ke dalam rongga peritoneum selama 10 menit dan dibiarkan selama 60-90 menit, kemudian dikeluarkan dalam waktu 10-20 menit.
      Keseluruhan prosedur memerlukan waktu sekitar 12 jam.
      Teknik ini terutama digunakan untuk mengobati gagal ginjal akut.

    2. Dialisa peritoneal intermiten dengan pemutar otomatis.
      Bisa dilakukan di rumah penderita.
      Suatu alat dengan pengatur waktu secara ototmatis memompa cairan ke dalam dan keluar dari rongga peritoneum. Biasanya alat pemutar dipasang pada waktu tidur sehingga pengobatan dijalani pada saat penderita tidur.
      Pengobatan ini harus dilakukan selama 6-7 malam/minggu.

    3. Dialisa peritoneal berpindah-pindah yang berkesinambungan.
      Cairan dibiarkan di dalam perut dalam waktu yang lama, dan dikeluarkan serta dimasukkan lagi sebanyak 4-5 kali/hari.
      Cairan dikemas dalam kantong polivinil klorida yang dapat dikembangkempiskan. Jika kosong, kantong ini bisa dilipat tanpa harus melepaskannya dari selang.
      Biasanya cairan harus diganti sebanyak 3 kali, dengan selang waktu 4 jam atau lebih. Setiap pergantian memerlukan waktu 30-45 menit.

    4. Dialisa peritoneal yang dibantu oleh pemutar secara terus menerus.
      Teknik ini menggunakan pemutar otomatis untuk menjalankan pergantian singkat selama tidur malam, sedangkan pergantian yang lebih lama dilakukan tanpa pemutar pada siang hari.
      Teknik ini mengurangi jumlah pergantian di siang hari tetapi pada malam hari penderita tidak dapat bergerak secara leluasa karena alatnya tidak praktis.


    Komplikasi Dialisa Peritoneal
    1. Perdarahan di tempat pemasangan selang atau perdarahan di dalam perut
    2. Perforasi organ dalam pada saat memasukkan selang
    3. Kebocoran cairan di sekitar selang atau ke dalam dinding perut
    4. Penyumbatan aliran cairan oleh bekuan darah
    5. Infeksi, baik pada peritoneum maupun di kulit tempat selang terpasang (menyebabkan terbentuknya abses). Infeksi biasanya terjadi karena prosedur dialisa yang kurang steril. Untuk mengatasi infeksi diberikan antibiotik.
    6. Hipoalbuminemia
    7. Sklerosis peritonealis (pembentukan jaringan parut di peritoneum), yang mengakibatkan penyumbatan parsial usus halus
    8. Hipotiroidisme
    9. Hiperglikemia, sering terjadi pada penderita kencing manis
    10. Hernia perut dan selangkangan
    11. Sembelit

    Dialisa Peritoneal
    more
  • Gagal Ginjal Akut
    DEFINISI
    Gagal Ginjal Akut adalah kemunduran yang cepat dari kemampuan ginjal dalam membersihkan darah dari bahan-bahan racun, yang menyebabkan penimbunan limbah metabolik di dalam darah (misalnya urea).

    PENYEBAB
    Gagal ginjal akut bisa merupakan akibat dari berbagai keadaan yang menyebabkan:
    - berkurangnya aliran darah ke ginjal
    - penyumbatan aliran kemih setelah meninggalkan ginjal
    - trauma pada ginjal.


    Penyebab Utama Gagal Ginjal Akut

    Masalah Penyebab Yg Mungkin
    Berkurangnya aliran darah ke ginjal
  • Kekurangan darah akibat perdarahan, dehidrasi atau cedera fisik yg menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah
  • Daya pompa jantung menurun (kegagalan jantung)
  • Tekanan darah yg sangat rendah (syok)
  • Kegagalan hati (sindroma hepatorenalis)
  • Penyumbatan aliran kemih
  • Pembesaran prostat
  • Tumor yg menekan saluran kemih
  • Trauma pada ginjal
  • Reaksi alergi (misalnya alergi terhadap zat radioopak yg digunakan pada pemeriksaan rontgen)
  • Zat-zat racun
  • Keadaan yg mempengaruhi unit penyaringan ginjal (nefron)
  • Penyumbatan arteri atau vena di ginjal
  • Kristal, protein atau bahan lainnya dalam ginjal


  • GEJALA
    Gejala-gejala yang ditemukan pada gagal ginjal akut: - Berkurangnya produksi air kemih (oliguria=volume air kemih berkurang atau anuria=sama sekali tidak terbentuk air kemih)
    - Nokturia (berkemih di malam hari)
    - Pembengkakan tungkai, kaki atau pergelangan kaki
    - Pembengkakan yang menyeluruh (karena terjadi penimbunan cairan)
    - Berkurangnya rasa, terutama di tangan atau kaki
    - Perubahan mental atau suasana hati
    - Kejang
    - Tremor tangan
    - Mual, muntah

    Gejala yang timbul tergantung kepada beratnya kegagalan ginjal, progresivitas penyakit dan penyebabnya.

    Keadaan yang menimbulkan terjadinya kerusakan ginjal biasanya menghasilkan gejala-gejala serius yang tidak berhubungan dengan ginjal.
    Sebagai contoh, demam tinggi, syok, kegagalan jantung dan kegagalan hati, bisa terjadi sebelum kegagalan ginjal dan bisa lebih serius dibandingkan gejala gagal ginjal.

    Beberapa keadaan yang menyebabkan gagal ginjal akut juga mempengaruhi bagian tubuh yang lain.
    Misalnya granulomatosis Wegener, yang menyebabkan kerusakan pembuluh darah di ginjal, juga menyebabkan kerusakan pembuluh darah di paru-paru, sehingga penderita mengalami batuk darah.
    Ruam kulit merupakan gejala khas untuk beberapa penyebab gagal ginjal akut, yaitu poliarteritis, lupus eritematosus sistemik dan beberapa obat yang bersifat racun.

    Hidronefrosis bisa menyebabkan gagal ginjal akut karena adanya penyumbatan aliran kemih.
    Arus balik dari kemih di dalam ginjal menyebabkan daerah pengumpul kemih di ginjal (pelvis renalis) teregang, sehingga timbul nyeri kram (bisa ringan atau sangat hebat) pada sisi yang terkena.
    Pada sekitar 10% penderita, kemihnya mengandung darah.

    DIAGNOSA
    Jika produksi air kemih berkurang, maka patut dicurigai sebagai gagal ginjal akut.

    Pemeriksaan darah menunjukkan adanya kadar urea dan kreatinin yang tinggi, disertai gangguan metabolik (misalnya asidosis, hiperkalemia, hiponatremia).

    Pada pemeriksaan fisik, dilakukan penilaian terhadap ginjal; apakah terdapat pembengkakan atau nyeri tumpul.
    Penyempitan pada arteri utama ginjal bisa menimbulkan bising (bruit) yang akan terdengar pada pemeriksaan dengan stetoskop.

    Jika diduga terjadi penyumbatan, dilakukan pemeriksaan colok dubur atau colok vagina untuk mengetahui adanya massa di kedua tempat tersebut.

    Pemeriksaan laboratorium terhadap air kemih bisa membantu menentukan penyebab dan beratnya gagal ginjal.
    Jika penyebabnya adalah berkurangnya aliran darah ke ginjal atau penyumbatan saluran kemih, maka air kemih akan tampak normal.
    Jika penyebabnya adalah kelainan di dalam ginjal, maka air kemih akan mengandung darah atau kumpulan sel darah merah dan sel darah putih. Air kemih juga mengandung sejumlah besar protein atau berbagai jenis protein yang dalam keadaan normal tidak ditemukan dalam air kemih.

    Angiografi (pemeriksaan rontgen pada arteri dan vena) dilakukan jika diduga penyebabnya adalah penyumbatan pembuluh darah.
    Pemeriksaan lainnya yang bisa membantu adalah CT scan dan MRI.
    Jika pemeriksaan tersebut tidak dapat menunjukkan penyebab dari gagal ginjal akut, maka dilakukan biopsi (pengambilan jaringan untuk pemeriksaan mikroskopis).

    PENGOBATAN
    Tujuan dari pengobatan adalah menemukan dan mengobati penyebab dari gagal ginjal akut. Selain itu pengobatan dipusatkan untuk mencegah penimbunan cairan dan limbah metabolik yang berlebihan.

    Asupan cairan dibatasi dan disesuaikan dengan volume air kemih yang dikeluarkan.
    Asupan garam dan zat-zat yang dalam keadaan normal dibuang oleh ginjal, juga dibatasi.
    Penderita dianjurkan untuk menjalani diet kaya karbohidrat serta rendah protein, natrium dan kalium.

    Antibiotik bisa diberikan untuk mencegah atau mengobati infeksi.
    Untuk meningkatkan jumlah cairan yang dibuang melalui ginjal, bisa diberikan diuretik>.

    Kadang diberikan natrium polistiren sulfonat untuk mengatasi hiperkalemia.

    Untuk membuang kelebihan cairan dan limbah metabolik bisa dilakukan dialisa. Dengan dialisa penderita akan merasa lebih baik dan lebih mudah untuk mengendalikan gagal ginjal.
    Dialisa tidak harus dijalani oleh setiap penderita, tetapi sering dapat memperpanjang harapan hidup penderita, terutama jika kadar kalium serumnya sangat tinggi.
    Indikasi dilakukannya dialisa adalah:
    - Keadaan mental menurun
    - Perikarditis
    - Hiperkalemia
    - Anuria
    - Cairan yang berlebihan
    - Kadar kreatinin > 10 mg/dL dan BUN > 120 mg/dL.
    more
  • Sindroma Alport

    DEFINISI
    Sindroma Alport (Nefritis herediter) adalah suatu penyakit keturunan, dimana fungsi ginjalnya buruk dan terdapat hematuria (darah dalam air kemih), kadang disertai tuli dan kelainan pada mata.

    PENYEBAB
    Sindroma Alport disebabkan oleh kelainan gen pada kromosom X.

    Wanita yang memiliki gen ini pada salah satu kromosom Xnya biasanya tidak menunjukkan gejala, meskipun ginjalnya kurang efisien dibandingkan dengan ginjal yang normal.
    Meskipun tidak memiliki gejala, wanita ini bisa mewariskan gen ini kepada anaknya.

    Pria dengan gen ini biasanya mengalami gagal ginjal pada usia 20-30 tahun, karena pria hanya memiliki 1 kromosom X sehingga tidak dapat mengkompensasikan kelainan kromosom ini ke kromosom lainnya.

    GEJALA
    Banyak penderita yang tidak memiliki gejala selain hematuria, tetapi air kemih juga bisa mengandung sejumlah protein, sel darah putih dan cast (gumpalan-gumpalan kecil).

    Sindroma Alport bisa menyerang organ selain ginjal.
    Gangguan pendengaran yang sering terjadi biasanya berupa ketidakmampuan untuk mendengar suara dengan frekuensi yang lebih tinggi.

    Bisa juga terjadi katarak, meskipun lebih jarang dibandingkan dengan gangguan pendengaran.
    Kelainan pada kornea, lensa atau retina kadang menyebabkan kebutaan.

    Gangguan lainnya terjadi pada beberapa persarafan (polineuropati) dan trombositopeni (jumlah trombosit yang sedikit di dalam darah).

    Bisa terjadi tekanan darah tinggi.



    DIAGNOSA
    Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil urinalisis (analisa air kemih).

    Pemeriksaan audiometri menunjukkan adanya ketulian.

    Biopsi ginjal menunjukkan glomerulonefritis kronis dengan gambaran yang khas untuk sindroma Alport.

    PENGOBATAN
    Tujuan pengobatan adalah untuk memantau dan mengendalikan perkembangan penyakit serta mengobati gejala-gejalanya.
    Yang terpenting adalah mengendalikan tekanan darah tinggi.

    Untuk mengatasi gagal ginjal kronis bisa dilakukan perubahan pola makan dan pembatasan asupan cairan.
    Jika telah mencapai stadium lanjut, dilakukan dialisa atau pencangkokan ginjal.

    Katarak diatasi dengan pembedahan untuk mengangkat katarak.

    Ketulian yang terjadi mungkin bisa menetap.
    Hal ini bisa dibantu dengan menggunakan alat bantu dengar.

    PENCEGAHAN
    Penyuluhan dan konsultasi genetik biasanya perlu dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat kemungkinan terjadi hal yang sama pada keturunan mereka nantinya.
    more
  • Ketika Saluran Berkemih Ikut Menua

    Setiap orang akan memasuki usia tua di kemudian hari. Ada yang menghadapinya dengan biasa-biasa saja karena menganggap proses penuaan sebagai proses fisiologis yang ditandai adanya penurunan fungsi dan metabolisme organ tubuh. Di sisi lain ada pula yang merasa khawatir bila menjadi tua. Makin peyot makin sakit-sakitan, katanya. Semakin meningkatnya usia harapan hidup orang Indonesia serta diprediksikan terjadi peningkatan jumlah lanjut usia menjadi 5,5% dari jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010, akan menimbulkan masalah kesehatan .

    Berbagai masalah kesehatan pada orang lanjut usia itulah yang coba dibahas dalam simposium KPPIK dengan tema "Aging Medicine, A Problem Based Approach for Medical Professional", bertempat di Hotel Sahid Jaya Jakarta, Sabtu-Minggu (25-26/2) lalu. Acara tahunan tersebut kali ini dihadiri 2000 peserta yang terdiri dari 1700 dokter umum dan 300 dokter spesialis.

    Pembesaran Prostat Jinak

    Salah satu organ yang "bermasalah" pada usia lanjut adalah organ yang terlibat dalam sistem saluran berkemih dan genitalia. Pada laki-laki proses penuaan dan pembesaran prostat jinak (PPJ) merupakan penyebab paling sering yang menyebabkan terjadinya "masalah" tersebut.

    Gejala-gejala yang berhubungan dengan proses berkemih dikenal dengan istilah lower urinary tract symptoms (LUTS), demikian ungkap Rochani dari Departemen Bedah FKUI/RSCM. LUTS dibagi menjadi 2 golongan yaitu obstruktif dan iritatif. Gejala obstruktif berupa hesitancy, pancaran lemah, tidak lampias, intermittency, mengejan, retensi (akut dan kronik). Sedangkan gejala iritatif terdiri dari frequency, urgency, nokturia dan urge incontinence.

    Selain proses penuaan dan PPJ, penyakit lokal, penyakit neurologi, penyakit yang berhubungan dengan umur (age-related diseases), perubahan hormon, anoksia, dan high nocturnal diuresis menjadi faktor penyebab terjadinya LUTS.

    Saat tubuh mulai menua akan terjadi perubahan struktur, fungsi dan metabolisme otot detrusor, saraf simpatis-parasimpatis, serta perubahan penyempitan pembuluh darah. Semua itu menyebabkan kelemahan kontraksi otot detrusor, kemudian terjadi hipoksia jaringan yang selanjutnya memicu perubahan persarafan hingga akhirnya timbullah gejala LUTS.

    Stroke menjadi penyakit neurologi tersering yang menyebabkan LUTS. Yang terjadi adalah penurunan kapasitas dan overactive dari kandung kemih. Di sisi lain, Parkinson menimbulkan gejala iritasi tapi jarang gejala obstruksi. Pada pemeriksaan urodinamik didapatkan detrusol hyperreflexia dan kadang-kadang sphincter detrussor dyscoordination. Neuropati akibat diabetes melitus pun ikut berperan dalam terjadinya LUTS. Gejala yang ditimbulkan berbeda tergantung pada lesi saraf mana neuropati itu berlangsung. Bila mengenai saraf simpatis, pasien mengeluh urgency, frequency, dan nokturia. Sedangkan bila saraf parasimpatis yang terkena, gejala yang dirasakan adalah overflow incontinence akibat hipotonia/atonia kandung kemih dimana pasien sering 'ke belakang' tapi kandung kemihnya penuh.

    Salah satu cara tepat untuk mengarahkan dan menentukan adanya gejala obstruksi akibat pembesaran prostat adalah International Prostate Symptom Score (IPSS). Skor yang terdiri dari 7 pertanyaan dengan rentang nilai 0-5 (total 35) ini berguna untuk menilai dan memantau keadaan pasien PPJ. Skor 0-7 berarti gejala ringan, 8-19 gejala sedang dan 20-35 gejala berat.

    Pemeriksaan colok dubur tidak boleh dilupakan. Dari pemeriksaan ini, pembesaran prostat, konsistensi prostat, dan adanya nodul dapat diperkirakan. Apabila colok dubur dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan prostat specific antigen (PSA), karsinoma prostat dapat terdeteksi lebih baik daripada colok dubur saja. Nilai normal PSA bervariasi tergantung umur. Pada umur 40-49 tahun, nilai normal PSA adalah 0-2,5 ng/ml, 50-59 tahun 0-3,5 ng/ml, 60-69 tahun 0-4,5 ng/ml, dan 70-79 tahun 0-6,5 ng/ml.

    Untuk mendeteksi gejala obstruksi saluran kemih bagian bawah secara non invasif dapat dilakukan uroflometri. Data yang diperoleh adalah volume miksi, pancaran maksimum (Qmax), pancaran rata-rata (Qave), waktu yang dibutuhkan untuk mencapai pancaran maksimum, dan lama pancaran.

    Kelemahan uroflometri adalah tidak spesifik menunjukkan penyebab terjadinya kelainan pancaran urin, sebab pancaran urin yang lemah dapat disebabkan karena bladder outlet obstruction (BOO) atau kelemahan otot detrusor.

    Kelemahan uroflometri tersebut ternyata dapat disingkapi dengan pemeriksaan urodinamik (pressure flow study). Pemeriksaan urodinamik dapat membedakan BOO atau kelemahan otot detrusor sebagai penyebab pancaran urin yang lemah. Urodinamik sangat bermanfaat pada pasien yang hendak menjalani pembedahan. Bila diketahui penyebabnya adalah kelemahan otot detrusor maka prosedur bedah tidak perlu dilakukan karena tidak ada manfaatnya. Sayangnya, pemeriksaan urodinamik bersifat invasif namun diimbangi dengan sensitifitas dan spesifisitas yang cukup tinggi yaitu 87% dan 93%.

    Inkontinensia Urin

    Sementara PPJ hanya 'milik' pria, inkontinensia urin justru lebih banyak pada wanita daripada pria usia lanjut. Hal itu tercermin dari survei inkontinensia urin yang dilakukan oleh Divisi Geriatri Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSCM. Menurut Siti Setiati dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, dari 179 orang usia lanjut di poliklinik Geriatri RSCM tahun 2003, didapatkan angka kejadian inkontinensia urin stres pada laki-laki sebesar 20,5% dan pada perempuan sebesar 32,5%.

    Berdasarkan penyebab, inkontinensia urin dibagi menjadi inkontinensia urin akut dan kronik. Inkontinensia urin kronik dibagi lagi menjadi 5 macam yaitu tipe stres, tipe urgensi, tipe overflow, tipe campuran, dan tipe fungsional.

    Tipe stres merupakan tipe yang paling sering dijumpai. Pada tipe stres, urin keluar akibat peningkatan tekanan intraabdomen seperti saat batuk, bersin, tertawa, atau melemahnya otot dasar panggul yang disebabkan oleh latihan yang berat atau luka di dasar panggul akibat kecelakaan.

    Perlu diingat bahwa seringkali pada usia lanjut, inkontinensia yang terjadi tidak hanya 1 tipe melainkan tipe campuran (kombinasi 2 tipe atau lebih). Yang paling sering adalah campuran antara tipe stress dan urgensi.

    Tatalaksana inkontinensia urin dapat berupa tatalaksana nonfarmakologis, farmakologis, dan pembedahan. Intervensi prilaku merupakan tatalaksana nonfarmakologis yang memiliki risiko rendah dengan sedikit efek samping, namun memerlukan motivasi dan kerjasama yang baik dari penderita. Intervensi prilaku meliputi bladder training, habit training, prompted training, dan latihan otot dasar panggul.

    Bladder training merupakan salah satu terapi yang efektif di antara terapi nonfarmakologis lainnya. Terapi ini bertujuan memperpanjang interval berkemih yang normal dengan berbagai teknik distraksi atau teknik relaksasi sehingga frekuensi berkemih dapat berkurang, hanya 6-7 kali per hari atau 3-4 jam sekali. Melalui latihan, penderita diharapkan dapat menahan sensasi berkemih. Penderita diinstruksikan untuk berkemih pada interval waktu tertentu, mula-mula tiap jam, selanjutnya interval berkemih diperpanjang secara bertahap sampai penderita ingin berkemih setiap 2-3 jam. Teknik ini terbukti bermanfaat pada tipe urgensi dan stres. Akan tetapi, sekali lagi ditekankan bahwa terapi ini hanya berhasil bila ada motivasi yang kuat dari penderita untuk berlatih menahan keluarnya urin dan hanya berkemih pada interval waktu tertentu.

    Apabila tatalaksana nonfarmakologis tidak berhasil barulah beralih ke tatalaksana farmakologis. Tatalaksana farmakologis untuk inkontinensia urin tipe stres adalah alfa agonis yang menyebabkan penutupan leher kandung kemih. Pseudoefedrin, contohnya, dapat digunakan untuk tatalaksana inkontinensia tipe stres karena meningkatkan tekanan sfingter uretra, sehingga menghambat pengeluaran urin. Efek samping yang ditimbulkan antara lain insomnia, sakit kepala, gugup, dan gelisah. Penggunaannya harus amat hati-hati pada penderita dengan hipertensi, aritmia jantung, dan angina.

    Selain alfa agonis, antikolinergik dapat juga digunakan khususnya pada tipe urgensi. Oksibutinin memiliki efek antikolinergik dan merelaksasikan otot halus. Tolterodin merupakan kompetitif bloker reseptor M3. Beberapa efek samping antikolinergik adalah xerostomia, xerophtalmia, konstipasi, gangguan penglihatan, sedative, retensi urin, insomnia, takikardia, ortostasis, kebingungan dan delirium.

    Tatalaksana yang terakhir adalah bedah. Tindakan pembedahan dapat dilakukan untuk memperbaiki kelemahan detrusor yaitu dengan cara pendekatan postsakral atau paravaginal. Teknik pembedahan yang paling sering digunakan adalah ileosistoplasti dan miektomi detrusor. Teknik pembedahan untuk tipe stres adalah injectable intraurethral bulking agents, suspensi leher kandung kemih, urethral slings, dan artificial urinary sphincters. Sementara itu untuk tipe urgensi adalah augmentation cytoplasty, dan stimulasi elektrik.

    Dalam kesimpulannya, Siti menekankan bahwa terapi yang sebaiknya pertama kali dilakukan adalah nonfarmakologis, bukan farmakologis dan bukan pula pembedahan.

    more
  • Batu Saluran Kemih
    DEFINISI
    Batu di dalam saluran kemih (kalkulus uriner) adalah massa keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi.

    Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam kandung kemih (batu kandung kemih).
    Proses pembentukan batu ini disebut urolitiasis (litiasis renalis, nefrolitiasis).

    Batu Ginjal

    PENYEBAB
    Terbentuknya batu bisa terjadi karena air kemih jenuh dengan garam-garam yang dapat membentuk batu atau karena air kemih kekurangan penghambat pembentukan batu yang normal.
    Sekitar 80% batu terdiri dari kalsium, sisanya mengandung berbagai bahan, termasuk asam urat, sistin dan mineral struvit.
    Batu struvit (campuran dari magnesium, amonium dan fosfat) juga disebut batu infeksi karena batu ini hanya terbentuk di dalam air kemih yang terinfeksi.

    Ukuran batu bervariasi, mulai dari yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang sampai yang sebesar 2,5 sentimeter atau lebih.
    Batu yang besar disebut kalkulus staghorn. Batu ini bisa mengisi hampir keseluruhan pelvis renalis dan kalises renalis.

    GEJALA
    Batu, terutama yang kecil, bisa tidak menimbulkan gejala.
    Batu di dalam kandung kemih bisa menyebabkan nyeri di perut bagian bawah.

    Batu yang menyumbat ureter, pelvis renalis maupun tubulus renalis bisa menyebabkan nyeri punggung atau kolik renalis (nyeri kolik yang hebat).
    Kolik renalis ditandai dengan nyeri hebat yang hilang-timbul, biasanya di daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggang, yang menjalar ke perut, daerah kemaluan dan paha sebelah dalam.

    Gejala lainnya adalah mual dan muntah, perut menggelembung, demam, menggigil dan darah di dalam air kemih.
    Penderita mungkin menjadi sering berkemih, terutama ketika batu melewati ureter.

    Batu bisa menyebabkan infeksi saluran kemih. Jika batu menyumbat aliran kemih, bakteri akan terperangkap di dalam air kemih yang terkumpul diatas penyumbatan, sehingga terjadilah infeksi.
    Jika penyumbatan ini berlangsung lama, air kemih akan mengalir balik ke saluran di dalam ginjal, menyebabkan penekanan yang akan menggelembungkan ginjal (hidronefrosis) dan pada akhirnya bisa terjadi kerusakan ginjal.

    DIAGNOSA
    Batu yang tidak menimbulkan gejala, mungkin akan diketahui secara tidak sengaja pada pemeriksaan analisa air kemih rutin (urinalisis).
    Batu yang menyebabkan nyeri biasanya didiagnosis berdasarkan gejala kolik renalis, disertai dengan adanya nyeri tekan di punggung dan selangkangan atau nyeri di daerah kemaluan tanpa penyebab yang jelas.

    Analisa air kemih mikroskopik bisa menunjukkan adanya darah, nanah atau kristal batu yang kecil.
    Biasanya tidak perlu dilakukan pemeriksaan lainnya, kecuali jika nyeri menetap lebih dari beberapa jam atau diagnosisnya belum pasti.

    Pemeriksaan tambahan yang bisa membantu menegakkan diagnosis adalah pengumpulan air kemih 24 jam dan pengambilan contoh darah untuk menilai kadar kalsium, sistin, asam urat dan bahan lainnya yang bisa menyebabkan terjadinya batu.

    Rontgen perut bisa menunjukkan adanya batu kalsium dan batu struvit.
    Pemeriksaan lainnya yang mungkin perlu dilakukan adalah urografi intravena dan urografi retrograd.

    PENGOBATAN
    Batu kecil yang tidak menyebabkan gejala, penyumbatan atau infeksi, biasanya tidak perlu diobati.
    Minum banyak cairan akan meningkatkan pembentukan air kemih dan membantu membuang beberapa batu; jika batu telah terbuang, maka tidak perlu lagi dilakukan pengobatan segera.

    Kolik renalis bisa dikurangi dengan obat pereda nyeri golongan narkotik.

    Batu di dalam pelvis renalis atau bagian ureter paling atas yang berukuran 1 sentimeter atau kurang seringkali bisa dipecahkan oleh gelombang ultrasonik (extracorporeal shock wave lithotripsy, ESWL).
    Pecahan batu selanjutnya akan dibuang dalam air kemih.

    Kadang sebuah batu diangkat melalui suatu sayatan kecil di kulit (percutaneous nephrolithotomy, nefrolitotomi perkutaneus), yang diikuti dengan pengobatan ultrasonik.
    Batu kecil di dalam ureter bagian bawah bisa diangkat dengan endoskopi yang dimasukkan melalui uretra dan masuk ke dalam kandung kemih.

    Batu asam urat kadang akan larut secara bertahap pada suasana air kemih yang basa (misalnya dengan memberikan kalium sitrat), tetapi batu lainnya tidak dapat diatasi dengan cara ini.
    Batu asam urat yang lebih besar, yang menyebabkan penyumbatan, perlu diangkat melalui pembedahan.

    Adanya batu struvit menunjukkan terjadinya infeksi saluran kemih, karena itu diberikan antibiotik.

    PENCEGAHAN
    Tindakan pencegahan pembentukan batu tergantung kepada komposisi batu yang ditemukan pada penderita.
    Batu tersebut dianalisa dan dilakukan pengukuran kadar bahan yang bisa menyebabkan terjadinya batu di dalam air kemih.

    Batu kalsium.
    Sebagian besar penderita batu kalsium mengalami hiperkalsiuria, dimana kadar kalsium di dalam air kemih sangat tinggi.
  • Obat diuretik thiazid(misalnya trichlormetazid) akan mengurangi pembentukan batu yang baru.
  • Dianjurkan untuk minum banyak air putih (8-10 gelas/hari).
  • Diet rendah kalsium dan mengkonsumsi natrium selulosa fosfat.
  • Untuk meningkatkan kadar sitrat (zat penghambat pembentukan batu kalsium) di dalam air kemih, diberikan kalium sitrat.
  • Kadar oksalat yang tinggi dalam air kemih, yang menyokong terbentuknya batu kalsium, merupakan akibat dari mengkonsumsi makanan yang kaya oksalat (misalnya bayam, coklat, kacang-kacangan, merica dan teh). Oleh karena itu sebaiknya asupan makanan tersebut dikurangi.
  • Kadang batu kalsium terbentuk akibat penyakit lain, seperti hiperparatiroidisme, sarkoidosis, keracunan vitamin D, asidosis tubulus renalis atau kanker. Pada kasus ini sebaiknya dilakukan pengobatan terhadap penyakit-penyakit tersebut.

    Batu asam urat.
  • Dianjurkan untuk mengurangi asupan daging, ikan dan unggas, karena makanan tersebut menyebabkan meningkatnya kadar asam urat di dalam air kemih.
  • Untuk mengurangi pembentukan asam urat bisa diberikan allopurinol.
  • Batu asam urat terbentuk jika keasaman air kemih bertambah, karena itu untuk menciptakan suasana air kemih yang alkalis (basa), bisa diberikan kalium sitrat.
  • Dianjurkan untuk banyak minum air putih.
  • more
  • Sindrom Nefritik Akut
    DEFINISI
    Sindrom Nefritik Akut (Glomerulonefritis Akut, Glomerulonefritis Pasca Infeksi) adalah suatu peradangan pada glomeruli yang menyebabkan hematuria (darah dalam air kemih), dengan gumpalan sel darah merah dan proteinuria (protein dalam air kemih) yang jumlahnya bervariasi.

    PENYEBAB
    Sindroma nefritik akut bisa timbul setelah suatu infeksi oleh streptokokus, misalnya strep throat.
    Kasus seperti ini disebut glomerulonefritis pasca streptokokus.

    Glomeruli mengalami kerusakan akibat penimbunan antigen dari gumpalan bakteri streptokokus yang mati dan antibodi yang menetralisirnya.
    Gumpalan ini membungkus selaput glomeruli dan mempengaruhi fungsinya.

    Nefritis timbul dalam waktu 1-6 minggu (rata-rata 2 minggu) setelah infeksi dan bakteri streptokokus telah mati, sehingga pemberian antibiotik akan efektif.
    Glomerulonefritis pasca streptokokus paling sering terjadi pada anak-anak diatas 3 tahun dan dewasa muda. Sekitar 50% kasus terjadi pada usia diatas 50 tahun.

    Sindroma nefritik akut juga bisa disebabkan oleh reaksi terhadap infeksi lainnya, seperti:
    - infeksi pada bagian tubuh buatan
    - endokarditis bakterialis
    - pneumonia
    - abses pada organ perut
    - cacar air
    - hepatitis infeksios
    - sifilis
    - malaria.

    GEJALA
    Sekitar 50% penderita tidak menunjukkan gejala.
    Jika ada gejala, yang pertama kali muncul adalah penimbunan cairan disertai pembengkakan jaringan (edema), berkurangnya volume air kemih dan air kemih berwarna gelap karena mengandung darah.

    Pada awalnya edema timbul sebagai pembengkakan di wajah dan kelopak mata, tetapi selanjutnya lebih dominan di tungkai dan bisa menjadi hebat.

    Tekanan darah tinggi dan pembengkakan otak bisa menimbulkan sakit kepala, gangguan penglihatan dan gangguan fungsi hati yang lebih serius.

    DIAGNOSA
    Urinalisis (analisa air kemih) menunjukkan jumlah protein yang bervariasi dan konsentrasi urea dan kreatinin di dalam darah seringkali tinggi.

    Kadar antibodi untuk streptokokus di dalam darah bisa lebih tinggi daripada normal.

    Kadang pembentukan air kemih terhenti sama sekali segera setelah terjadinya glomerulonefritis pasca streptokokus, volume darah meningkat secara tiba-tiba dan kadar kalium darah meningkat.
    Jika tidak segera menjalani dialisa, maka penderita akan meninggal.

    Sindroma nefritik akut yang terjadi setelah infeksi selain streptokokus biasanya lebih mudah terdiagnosis karena gejalanya seringkali timbul ketika infeksinya masih berlangsung.

    PENGOBATAN
    Pemberian obat yang menekan sistem kekebalan dan kortikosteroid tidak efektif, kortikosteroid bahkan bisa memperburuk keadaaan.

    Jika pada saat ditemukan sindroma nefritik akut infeksi bakteri masih berlangsung, maka segera diberikan antibiotik.

    Jika penyebabnya adalah infeksi pada bagian tubuh buatan (misalnya katup jantung buatan), maka prognosisnya tetap baik, asalkan infeksinya bisa diatasi.
    Untuk mengatasi infeksi biasanya dilakukan pengangkatan katup buatan yang terinfeksi dan menggantinya dengan yang baru disertai dengan pemberian antibiotik.

    Penderita sebaiknya menjalani diet rendah protein dan garam sampai fungsi ginjal kembali membaik.
    Bisa diberikan diuretik untuk membantu ginjal dalam membuang kelebihan garam dan air.

    Untuk mengatasi tekanan darah tinggi diberikan obat anti-hipertensi.

    Jika terjadi gagal ginjal yang berat, penderita perlu menjalani dialisa.


    PROGNOSIS

    Sebagian besar penderita mengalami penyembuhan yang sempurna.
    Jika pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya sejumlah besar protein dalam air kemih atau terjadi kemunduran fungsi ginjal yang sangat cepat, maka kemungkinan akan terjadi gagal ginjal dan kerusakan ginjal.

    Pada 1% penderita anak-anak dan 10% penderita dewasa, sindroma nefritik akut berkembang menjadi sindroma nefritik yang berkembang dengan cepat.

    Sekitar 85-95% anak-anak kembali mendapatkan fungsi ginjalnya yang normal, tetapi memiliki resiko tinggi menderita tekanan darah tinggi di kemudian hari.
    Sekitar 40% dewasa mengalami penyembuhan yang tidak sempurna dan tetap memiliki kelainan fungsi ginjal.
    more

Iklan

Space Iklan Space Iklan

Iklan

Powered by Ubuntu Pictures, Images and Photos Stetson Logo Pictures, Images and Photos Visit Indonesia 2008 photobucket logo Pictures, Images and Photos Fedora Core Logo Pictures, Images and Photos Stop Global Warming Logo Pictures, Images and Photos go FUtsal Pictures, Images and Photos
link to search engine optimization guide
Provided by SEO guide.
Google

ShoutMix chat widget

Video Kedokteran

Photos